BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sastra merupakan segala jenis karvdvdvdangan yang
berisi dunia khayalan manusia, tidak bisa dihubung-hubungkan begitu saja dengan
kenyataan. Dalam hal ini, sastra ialah karangan yang mengandung fiksi, bukan
karangan yang mengandung fakta. Dewasanya sastra sangat erat kaitannya dengan
kehidupan masyarakat. Sastra merupakan cerminan masyarakat, di mana masyarakat sangat
menentukan nilai karya sastra yang hidup pada zamannya. Melalui karya sastra,
masyarakat turut andil dalam prosesnya.
Karya sastra adalah suatu fenomena sosial. Karya
sastra terkait dengan pembaca dan segi kehidupan manusia yang diungkapkan di
dalamnya. Karya sastra sebagai fenomena sosial tidak hanya terletak pada segi
penciptaannya tetapi pada hakikat karya itu sendiri tetapi sebagai reaksi
sosial seorang penulis terhadap fenomena sosial yang dihadapinya mendorong ia
menulis karya sastra. Oleh sebab itu, mempelajari karya sastra berarti
mempelajari suatu kehidupan sosial, mengkaji manusia, kehidupan, budaya,
ideologi, perwatakan, bahkan menyangkut masalah-masalah lain yang lebih luas
yang terkait dengan kehidupan manusia.[1]
Karya sastra dalam hal ini drama merupakan salah satu
karya sastra yang di dalamnya terdapat dialog yang ditampilkan di atas
panggung. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Krauss dalam bukunya Verstehen und Gestalten, “Gesang und Tanz
des altgriechischen Kultus stammende kunstlerische Darstellungsform, in der auf
der Buhne im Klar gegliederten dramatischen Dialog ein Konflikt und seine
Losung dargestellt wird.[2] Drama adalah suatu bentuk gambaran seni
yang datang dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya
dengan jelas terorganisasi dialog dramatis, sebuah konflik dan penyelesaiannya
digambarkan di atas panggung.
Dalam hal ini, naskah drama yang akan dikaji ialah naskah
drama karangan Motinggo Busye yang berjudul Tiang
Debu. Naskah ini bercerita tentang bagaimana sikap takhayul yang lekat
sekali dimiliki oleh tokoh Romo, yang sangat bertentangan dengan mantunya
bernama Agus yang tidak percaya hal-hal berbau mistis. Tinjauan yang digunakan kali
ini yaitu Semiotik.
Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Tanda
mempunyai dua aspek yaitu penanda (signifier)
dan petanda (signified). Penanda
adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan
petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh petanda itu yaitu artinya.[3]
Jadi, semiotik merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda dengan
berbagai proses yang terdapat pada tanda tersebut.
Tanda-tanda
yang ada pada naskah drama Tiang Debu
karangan Motinggo Busye harus diungkap untuk mengetahui pesan yang ingin
disampaikan oleh pengarang. Dengan pendekatan semiotik, pembaca akan dapat
mengetahui pesan pada naskah drama Tiang
Debu.
1.2. Perumusan Masalah
Bagaimana
Kajian Semiotik pada Naskah Drama Tiang
Debu Karangan Motinggo Busye?
1.3. Tujuan
Untuk Mengetahui
Kajian Semiotik pada Naskah Drama Tiang
Debu Karangan Motinggo Busye.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hakikat Semiotik
Semiotik
atau ada yang menyebut dengan semiotika, berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari
kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada sintomatologi
dan diagnostik inferensial.[4] Tanda
pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adnya hal lain.
Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan
pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti
sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda.[5]
Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek,
peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Teew semiotik
adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi
model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk
pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat
mana pun.[6]
Para ahli semiotik modern mengatakan
bahwa analasis semiotik modern telah diwarnai dua nama yaitu seorang linguis
yang berasal dari Swiss bernama Ferdinand De Saussure dan seorang filsuf
Amerika bernama Charles Sanders Peirce. Peirce menyebut model sistem
analisisnya dengan semiotik dan istilah tersebut telah menjadi istilah yang
dominan digunakan untuk ilmu tentang tanda. Semiologi de Saussure berbeda
dengan semiotik Peirce dalam beberapa hal, tetapi keduanya berfokus pada tanda.
Semiologi didasarkan pada anggapan
bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama
berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakang sistem pembedaan dan konvensi
yang memungkinkan makna itu, di mana ada sistem.[7]
Sekalipun hanyalah merupakan salah satu cabangnya, namun linguistik dapat
berperan sebagai model untuk semiologi. Penyebabnya terletak pada ciri arbitrer dan konvensional yang dimiliki
tanda bahasa. Tanda-tanda bukan bahasa pun dapat dipandang sebagai fenomena arbitrer dan konvensional seperti mode,
upacara, kepercayaan, dan lainnya.
Lain halnya dengan Ferdinand De
Saussure, Peirce meyakini bahwa manusia berpikir dalam tanda. Maka diciptakan
olehnya ilmu tanda yang ia sebut semiotik. Semiotika baginya sinonim dengan
logika. Secara harafiah ia mengatakan “kita hanya berpikir dalam tanda”. Di
samping itu ia juga melihat tanda sebagai unsur dalam komunikasi.
Dalam analisis semiotiknya, Peirce
membagi tanda berdasarkan sifat ground
menjadi tiga kelompok, yaitu qualisigns,
sinsigns, dan legisigns. Qualisigns
adalah tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Contoh, sifat
merah merupakan qualisigns karena merupakan tanda pada bidang yang mungkin. Sinsigns adalah tanda yang merupakan
tanda atas dasar tampilan dalam kenyataan. Semua pernyataan individual yang
tidak dilembagakan merupakan sinsigns. Sebuah jeritan bisa berarti kesakitan,
keheranan atau kegembiraan. Legisigns
adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku
umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Tanda lalu lintas adalah sebuah legisigns.
Begitu juga dengan mengangguk, mengerutkan alis, berjabat tangan, dan
sebagainya.[8]
Menurut Eco (1990:28), ada satu
prinsip yang sangat mendasari teori semiotik Peirce, yaitu sebuah tanda adalah
sesuatu yang telah diketahui lewat sesuatu yang kita tahu secara detail. Peirce
membedakan hubungan antara tanda (representamen) dan acuannya (object) ke dalam
3 jenis hubungan, yang meliputi (1) ikon (icon), jika ia berupa hubungan
kemiripan. (2) indeks (index), jika ia berupa hubungan kedekatan kausalitas,
dan (3) simbol (symbol), jika ia berupa hubungan yang sudah terbentuk secara
konvensi. Peirce lebih jauh menjelaskan bahwa tipe-tipe tanda seperti ikon,
indeks, dan simbol memiliki nuansa yang dapat dibedakan, yaitu:
1.
Ikon, yaitu tanda
yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat serupa (berupa kemiripan),
sehingga penanda merupakan gambaran atau arti langsung dari petanda (misalnya
gambar buku menandai buku yang nyata). Ikon dibagi menjadi tiga, yakni:
a.
Ikon tipologis,
yaitu ikon yang dalam pendeskripsiannya terdapat istilah-istilah dalam makna
spasialitasnya, profil, atau garis bentuk. Misalnya potret seorang gadis yang
cantik menandai kecantikan gadis tersebut.
b.
Ikon dragmatis,
yaitu ikon yang dalam pendeskripsiannya terdapat wilayah makna relasi. Adanya
hubungan antara gejala struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang
ditunjukkan oleh acuannya. Misalnya seorang bayi diberi nama “Agustina” karena
dilahirkan pada bulan Agustus.
c.
Ikon metafora,
yaitu ikon yang tidak mempunyai kemiripan antara tanda dan acuannya, tetapi
antara dua acuan, keduanya diacu dengan tanda yang sama seperti halnya metafora
yang sebenarnya juga.
2.
Indeks, yaitu
tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara penanda dan petanda yang
berupa hubungan sebab akibat (hubungan kausal). Sebuah tanda disebut sebagai
indeks apabila terdapat hubungan eksistensial di antara tanda dan objeknya yang
bersifat konkret melalui cara yang kausal. Sebagai contoh adalah jejak kaki di
atas permukaan tanah merupakan indeks jika ada orang yang baru saja
melewatinya.
3.
Simbol, yaitu
tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya.
Hubungan keduanya bersifat arbitrer (semaunya) dan berdasarkan konvensi
(perjanjian masyarakat). Berdasarkan konvensi itu masyarakat menafsirkan ciri
hubungan antara simbol dengan objek yang diacu dan menafsirkan maknanya.
Misalnya kata ‘ibu’ berarti ‘orang yang melahirkan kita’.[9]
2.2. Macam-macam Semiotik
Sampai saat ini, sekurang-kurangnya
terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang. Macam-macam semiotik
ini antara lain semiotik analitik, deskriptif, faunal zoosemiotic, kultural, naratif, natural, normatif, sosial,
struktural. Semiotik analitik merupakan semiotik yang menganalisis sistem
tanda. Semiotik deskriptif adalah semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang
dapat kita alami sekarang meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti
yang disaksikan sekarang. Semiotik faunal zoosemiotic
merupakan semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan
oleh hewan. Semiotik kultural merupakan semiotik yang khusus menelaah sistem
tanda yang ada dalam kebudayaan masyarakat. Semiotik naratif merupakan semiotik
yang membahas sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (folklore). Semiotik natural atau
semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Semiotik
normatif merupakan semiotik yang khusus membahas sistem tanda yang dibuat oleh
manusia yang berwujud norma-norma. Semiotik sosial merupakan semiotik yang
khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud
lambang, baik lambang kata maupun lambang rangkaian kata berupa kalimat.
Semiotik struktural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang
dimanifestasikan melalui struktur bahasa.[10]
2.3. Bahasa sebagai Sistem Semiotik
Bahasa dalam pemakaiannya bersifat
bidimensional, karena keberadaan makna selain ditentukan oleh kehadiran dan
hubungan antar lambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemeran
serta konteks sosial dan situasional yang melatarinya. Dihubungkan dengan
fungsi yang dimiliki, bahasa memiliki fungsi eksternal dan fungsi internal.
Oleh sebab itu, selain dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan
menciptakan komunikasi, juga untuk mengolah informasi dan dialog antar diri
sendiri.
Kajian bahasa sebagai suatu kode
dalam pemakaian berfokus pada (1) karakteristik hubungan antara bentuk lambang
atau kata satu dengan yang lainnya, (2) hubungan antar bentuk kebahasaan dengan
dunia luar yang diacunya, (3) hubungan antar kode dengan pemakainya. Studi
tentang sistem tanda sehubungan dengan ketiga butir tersebut baik berupa tanda
kebahasaan maupun bentuk tanda lain yang digunakan manusia dalam komunikasi
masuk dalam ruang lingkup semiotik.[11]
Ditinjau dari sudut pemakaian, telah
diketahui bahwa alat komunikasi manusia dapat dibedakan antara media berupa
bahasa atau media verbal dengan media nonbahasa atau nonverbal. Sementara media
kebahasaan itu, ditinjau dari alat pemunculannya atau chanel dibedakan pula
antara media lisan dengan media tulis. Dalam media lisan misalnya, wujud
kalimat perintah dan kalimat tanya dengan mudah dapat dibedakan lewat pemakaian
bunyi suprasegmental atau pemunculan kinesik, yakni gerak bagian tubuh yang
menuansakan makna tertentu. Kaidah penataan kalimat selalu dilatari tendesi
semantis tertentu. Dengan kata lain sistem kaidah penataan lambang secara
gramatis selalu berkaitan dengan strata makna dalam suatu bahasa. Pada sisi lain
makna sebagai label yang mengacu realitas tertentu juga memiliki sistem
hubungannya sendiri.[12]
2.4. Kajian Semiotik pada Naskah Drama Tiang Debu
Dalam pengkajian kali ini, nampaknya pendapat Pierce
lebih bisa diterima dibandingkan Ferdinand De Saussure dalam kajian semiotik.
Pierce membedakan hubungan antara tanda dan acuannya ke dalam 3 jenis hubungan,
yang meliputi (1) ikon, (2) Indeks, dan (3) Simbol.
No.
|
Deskripsi Data
|
Hubungan Kenyataan dengan Jenis Dasarnya
|
Keterangan
|
||
1
|
2
|
3
|
|||
1.
|
waktu fajar naik, Nampak Romo duduk
dikursi goyang. Ia berwajah senyap menghadap penonton dengan pandangan jauh
menembus.
Ia memakai blangkon,
surjan, dan batik berwarna duka,
dengan sandal Portugis ditangannya tongkat.
Sumi ketiduran dikursi
Jam antic melonceng
satu kali. Romo menoleh, melihat ke jam dinding. Diambilnya dari kantong
surjannya jam kantong berantai, seakan-akan mencocokkan waktu, lalu
dimasukkannya lagi. Ia menatap kedepan lagi dengan wajah sumarah tanpa
mendengar lagi pintu kamar Sumi terbuka. Agus berpiyama. Membawa jaket ungu,
agak mengantuk keluar dari kamar itu dan mendekati Sumi. Ia melihat sejenak
kepada Romo. (N1)
|
ü
|
semua ikon
tersebut merupakan awal mula cerita di mana Romo saat itu sedang duduk
dikursi singgasananya dengan menggunakan blangkon, surjan, batik. Ia memakai
tongkat. Jam di rumahnya berbunyi satu kali. Pandangannya tak luput
memerhatikan jam dinding. Ia memiliki jam tangan di kantong surjannya. Tokoh
agus menggunakan baju tidur dan membawa sebuah jaket berwarna ungu.
|
||
2.
|
Sumi berdiri
melihat jam (N3)
|
ü
|
Pada ikon jam,
di sini terlihat bahwa tokoh Sumi tersentak dan kaget ketika ditanya oleh
tokoh Agus. Ikon jam menggambarkan alat untuk mengukur waktu.
|
||
3.
|
Aku memerlukan
sinar matahari yang pertama dan terakhir (D7)
|
ü
|
Indeks ini
menunjukkan bahwa ia masih ingin melihat cahaya matahari hingga ajal
menjemputnya.
|
||
4.
|
Siapa yang
berani menutup jendela itu, akan mendapat celaka. Kenapa kau mesti repot
mengurusi Sumi? (D9)
|
ü
|
Ikon jendela
menggambarkan benda mati berbentuk persegi panjang yang bisa tertutup maupun
terbuka.
|
||
5.
|
Meletakkan jaket
di meja, lalu masuk kamar tapi pintu tidak ditutupnya. (N11)
|
ü
|
Ikon meja
menggambarkan tempat untuk menaruh benda apa pun di atasnya, dalam hal ini,
jaket yang ditaruh. Sedangkan kamar menggambarkan ruangan tempat tidur tokoh
Agus.
|
||
6.
|
Siapa yang
berani menutup jendela itu, akan mendapat celaka. Kenapa kau mesti repot mengurusi
Sumi? (D9)
|
ü
|
Indeks ini
menggambarkan apabila ada seseorang yang berani menutup jendela, maka akan
terjadi musibah yang menutupnya.
|
||
7.
|
Menekan tongkat,
kursi bergoyang teratur. (N12)
|
ü
|
Ikon tongkat
menggambarkan kepunyaan benda berbentuk lonjong panjang yang dimiliki Romo.
|
||
8.
|
“Sumi... kau tak
usah menangis, tak usah menangis. “saatnya sudah dekat, janji itu sebentar
lagi ditebus, hari ini hari Jumat Kliwon. Kuminta dikuburkan sebelum orang
pergi sembayang Jumat, terus terang aku tidak meninggalkan pusaka apa-apa
untukmu Sumi... kecuali bila kain kafan telah membungkus jasadku nanti,
gantungkanlah pakaianku dikapstok itu baik-baik, jangan sampai ada yang
memindahkannya nanti, bersihkan debunya bila debu itu mengotori pakaianku
ini. Dan selop ini, kuminta diletakan didepan pintu kamarku itu dikamar itu
terkumpul sejarah keluarga yang akan habisa sampai disini. (D25)
|
ü
|
|||
9.
|
“Kami bertemu
tanpa sengaja. Dua tahun lamanya saya jadi janda. Bukankah Romo sendiri yang
menulis surat pada saya, agar saya segera kawin lagi ? Sayapun ketemu dengan
mas Agus diruang kuliah Extention. Kami tidak terlalu ama untuk kemudian
memutuskan segera kawin. Memang, jika saya bersalah, kesalahan itu karena
kelalaian saya memberitahu pada Romo dan tidak minta persetujuan pada Romo
lebih dulu. (D35)
|
ü
|
Ikon ini
menggambarkan adanya sebuah gedung di suatu universitas yang di dalamnya
terdapat ruangan-ruangan untuk belajar mahasiswa.
|
||
10.
|
Aku seperti
mendengar langkah orang datang. Tentu Mantri akan datang, menerima pamitku
yang penghabisan. Oh, itu siapa? (D44)
|
ü
|
Simbol yang
muncul saat Romo mendengar suara langkah kaki kemudian menginginkan ucapan
terakhir yang diberikan Romo kepada Mantri.
|
||
11.
|
(LONCENG JAM
BERBUNYI EMPAT KALI, SUMI KAGET LALU IA MELIHAT JAM KE JENDELA. TAKUT). (N33)
|
ü
|
Ikon benda ini menggambarkan
suasana mencekam saat lonceng jam berbunyi empat kali.
|
||
12.
|
Ketika tubuhku
telah terbaring dibawah tanah. Ia datang setelah waktu Asyar tiba, pada hari
jum’at ini juga. Bangkai burung gagak itu yang memberi petanda. (D64)
|
ü
|
Simbol yang
muncul ini menggambarkan bagaimana tokoh Romo yang berangan-angan sudah
berada di liang lahat pada waktu Asyar.
|
||
13.
|
Ketika tubuhku
telah terbaring dibawah tanah. Ia datang setelah waktu Asyar tiba, pada hari
jum’at ini juga. Bangkai burung gagak itu yang memberi petanda. (D64)
|
ü
|
Ikon ini
menggambarkan seekor burung gagak yang telah mati dan menjadi bangkai.
|
||
14.
|
Kedatangannya
mendadak sekali. Ia membawa sebuah pistol. (D66)
|
ü
|
Ikon ini
menggambarkan senjata api genggam yang ukurannya kecil.
|
||
15.
|
MENOLEH MELIHAT
ADA KRANS BUNGA DISANDARKAN DIPINTU (N65)
|
ü
|
Ikon ini
menggambarkan bagian tumbuhan yang akan menjadi buah.
|
||
16.
|
Kuperingatkan
Gus, agar kau hati-hati, jangan sampai berbicara melangkahi pantangan. (D117)
|
ü
|
Indeks ucapan
ini menggambarkan sifat Agus yang keras kepala saat diberitahu oleh Mantri.
Kemudian, Mantri memberi nasihat kepada Agus agar tidak sembarang berbicara.
|
||
17.
|
Kukatakan, bahwa
aku bisa merobeknya ! Dikatakan disini, bahwa ia akan datang sore-sore karena
kebetulan ia perlu ke Jogja. Kebetulan ! (D137)
|
ü
|
Ikon tempat ini
menggambarkan Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ciri
khasnya disebut Kota Gudeg.
|
||
18.
|
Ia belum dengar,
bahwa orang tua purba, bisa menjumpai anaknya hingga jadi batu ! (D146)
|
ü
|
Indeks ucapan
ini menggambarkan ucapan orangtua sangat sakral.
|
||
19.
|
Aku ingat, dia
sering membawamu jalan-jalan kalau sore ke alun-alun. Atau kalau ada kenduri,
kangmas mengajakmu menonton wayang kulit semalam suntuk. Kalau ada perayaan
sekaten di alun-alun lor, kau selalu diajaknya nonton sirkus, naik kereta
putar. Kau telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Kau kawin menurut apa
yang kau sukai saja. (D158)
|
ü
|
Ikon tempat ini
menggambarkan tanah lapang yang luas yang terdapat berbagai macam permainan
seperti komedi putar, ombak banyu, biang lala, dan lain sebagainya.
|
||
20.
|
Masjid syuhada
..... (D166)
|
ü
|
Ikon tempat ini
menggambarkan rumah untuk beribadah orang islam.
|
||
21.
|
Hei, mas ! Pak,
ia duduk disitu ! dikursi Romo ! Bencana benar-benar akan datang ! (D177)
|
ü
|
Simbol ini
menggambarkan bagaimana kramatnya kursi sepeninggal Romo. Sumi mengingatkan
suaminya untuk tidak duduk dikursi tersebut dan apabila ada orang yang duduk
disitu, niscaya akan ada masalah yang menimpa orang tersebut.
|
||
22.
|
Syukurlah! Saya
menginap dihotel Garuda malam ini. Tentu malam ini saya kesepian sekali.
Bagaimana kalau kita main kartu sehabis tahlilan malam ini? (D183)
|
ü
|
Ikon tempat ini
menggambarkan bangunan berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat untuk
menginap.
|
||
23.
|
Tadi setelah
orang-orang pulang tahlilan katanya ia pergi ke Malioboro mau beli kartu?
(D193)
|
ü
|
Ikon tempat ini
menggambarkan bangunan yang terdapat di Yogyakarta, sebagai bangunan yang
memperjualbelikan macam-macam pernak pernik khas Kota Gudeg.
|
||
*Keterangan
1. Ikon 2. Indeks 3. Simbol
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Semiotika merupakan ilmu tentang lambang dan tanda
sebagai tindak komunikasi yang terjadi. Apa pun bentuk komunikasinya, apa pun
bentuk obyeknya, apa pun peristiwa-peristiwanya, semua itu dimaknai sebagai
tanda. Tanda dalam hal ini, menurut Pierce dibagi menjadi tiga tipe, yaitu
ikon, indeks, dan simbol.
Dalam naskah drama Tiang
Debu karangan Motinggo Busye terdapat kalimat-kalimat yang mengindikasikan
sebuah tanda dalam karya sastra. Tanda-tanda yang terdapat dalam drama ini
bukan sekadar kata, namun kata-kata tersebut memiliki fungsi keindahan.
Tanda-tanda dalam naskah drama Tiang Debu berjumlah dua puluh tiga, yang
terdiri atas lima belas ikon, lima indeks, dan tiga simbol. Ikon di sini
terlihat yang paling banyak dibandingkan dengan yang lain. Sehingga dalam
naskah ini, hubungan tanda antara penanda dan pertanda bersifat serupa atau
sama.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin,
Semantik: Pengantar Studi tentang Makna,
( Bandung: Sinar Baru, 1988).
De
Saussure, Ferdinand, Course in General
Linguistics, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1988).
Djoko
Pradopo, Rachmat, Kritik Sastra Indonesia
Modern, (Bandung: Gama Media, 2002).
Krauss,
Hedwig, Verstehen und Gestalten,
(Munchen: Franzis Print and Media GmbH, 1999).
Prawesti,
Afni, Analisis Struktural Semiotik Naskah
Drama Emilia Galotti karya Gotthold Ephraim Lessing, (Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta, 2013).
Semi,
Atar, Metode Penelitian Sastra,
(Bandung: Angkasa, 1990).
Sobur,
Alex, Analisis Teks Media, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004).
Teew,
A, Khasanah Sastra Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1984).
Van
Zoest, Art, Semiotika: Tentang Tanda,
Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Denganya, (Jakarta: Yayasan Sumber
Agung, 1993).
[1] Atar
Semi, Metode Penelitian Sastra,
(Bandung: Angkasa, 1990), hlm. 53.
[2] Hedwig
Krauss, Verstehen und Gestalten,
(Munchen: Franzis Print and Media GmbH, 1999), hlm. 249.
[3] Rachmat
Djoko Pradopo, Kritik Sastra Indonesia
Modern, (Bandung: Gama Media, 2002), hlm. 71.
[4] Alex
Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 95.
[5] Art Van
Zoest, Semiotika: Tentang Tanda, Cara
Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Dengannya, (Jakarta: Yayasan Sumber
Agung, 1993), hlm 1.
[6] A, Teew,
Khasanah Sastra Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1984), hlm.6.
[7] Ferdinand
de saussure, Course in General
Linguistics, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1988), hlm. 26.
[8] Art Van Zoest,
Op.cit., hlm. 10.
[9] Afni
Prawesti, Analisis Struktural Semiotik Naskah Drama Emilia Galotti Karya
Gotthold Ephraim Lessing. (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2013),
hlm. 40.
[10] Ibid.
[11]
Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi
tentang Makna, (Bandung: Sinar Baru, 1988), hlm. 37.
[12]
Aminuddin, Op.cit.,hlm. 38.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar yang baik yaa..