Sabtu, 21 Juli 2018

Kajian Semiotik pada Naskah Drama "Tiang Debu" Karangan Motinggo Busye


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sastra merupakan segala jenis karvdvdvdangan yang berisi dunia khayalan manusia, tidak bisa dihubung-hubungkan begitu saja dengan kenyataan. Dalam hal ini, sastra ialah karangan yang mengandung fiksi, bukan karangan yang mengandung fakta. Dewasanya sastra sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Sastra merupakan cerminan masyarakat, di mana masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup pada zamannya. Melalui karya sastra, masyarakat turut andil dalam prosesnya.  
Karya sastra adalah suatu fenomena sosial. Karya sastra terkait dengan pembaca dan segi kehidupan manusia yang diungkapkan di dalamnya. Karya sastra sebagai fenomena sosial tidak hanya terletak pada segi penciptaannya tetapi pada hakikat karya itu sendiri tetapi sebagai reaksi sosial seorang penulis terhadap fenomena sosial yang dihadapinya mendorong ia menulis karya sastra. Oleh sebab itu, mempelajari karya sastra berarti mempelajari suatu kehidupan sosial, mengkaji manusia, kehidupan, budaya, ideologi, perwatakan, bahkan menyangkut masalah-masalah lain yang lebih luas yang terkait dengan kehidupan manusia.[1]
Karya sastra dalam hal ini drama merupakan salah satu karya sastra yang di dalamnya terdapat dialog yang ditampilkan di atas panggung. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Krauss dalam bukunya Verstehen und Gestalten, “Gesang und Tanz des altgriechischen Kultus stammende kunstlerische Darstellungsform, in der auf der Buhne im Klar gegliederten dramatischen Dialog ein Konflikt und seine Losung dargestellt wird.[2] Drama adalah suatu bentuk gambaran seni yang datang dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya dengan jelas terorganisasi dialog dramatis, sebuah konflik dan penyelesaiannya digambarkan di atas panggung.
Dalam hal ini, naskah drama yang akan dikaji ialah naskah drama karangan Motinggo Busye yang berjudul Tiang Debu. Naskah ini bercerita tentang bagaimana sikap takhayul yang lekat sekali dimiliki oleh tokoh Romo, yang sangat bertentangan dengan mantunya bernama Agus yang tidak percaya hal-hal berbau mistis. Tinjauan yang digunakan kali ini yaitu Semiotik.
Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Tanda mempunyai dua aspek yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh petanda itu yaitu artinya.[3] Jadi, semiotik merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda dengan berbagai proses yang terdapat pada tanda tersebut.
Tanda-tanda yang ada pada naskah drama Tiang Debu karangan Motinggo Busye harus diungkap untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Dengan pendekatan semiotik, pembaca akan dapat mengetahui pesan pada naskah drama Tiang Debu.

1.2. Perumusan Masalah
Bagaimana Kajian Semiotik pada Naskah Drama Tiang Debu Karangan Motinggo Busye?

1.3. Tujuan
Untuk Mengetahui Kajian Semiotik pada Naskah Drama Tiang Debu Karangan Motinggo Busye.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hakikat Semiotik
            Semiotik atau ada yang menyebut dengan semiotika, berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada sintomatologi dan diagnostik inferensial.[4] Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adnya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda.[5] Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Teew semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun.[6]
            Para ahli semiotik modern mengatakan bahwa analasis semiotik modern telah diwarnai dua nama yaitu seorang linguis yang berasal dari Swiss bernama Ferdinand De Saussure dan seorang filsuf Amerika bernama Charles Sanders Peirce. Peirce menyebut model sistem analisisnya dengan semiotik dan istilah tersebut telah menjadi istilah yang dominan digunakan untuk ilmu tentang tanda. Semiologi de Saussure berbeda dengan semiotik Peirce dalam beberapa hal, tetapi keduanya berfokus pada tanda.
            Semiologi didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakang sistem pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu, di mana ada sistem.[7] Sekalipun hanyalah merupakan salah satu cabangnya, namun linguistik dapat berperan sebagai model untuk semiologi. Penyebabnya terletak pada ciri arbitrer dan konvensional yang dimiliki tanda bahasa. Tanda-tanda bukan bahasa pun dapat dipandang sebagai fenomena arbitrer dan konvensional seperti mode, upacara, kepercayaan, dan lainnya.
            Lain halnya dengan Ferdinand De Saussure, Peirce meyakini bahwa manusia berpikir dalam tanda. Maka diciptakan olehnya ilmu tanda yang ia sebut semiotik. Semiotika baginya sinonim dengan logika. Secara harafiah ia mengatakan “kita hanya berpikir dalam tanda”. Di samping itu ia juga melihat tanda sebagai unsur dalam komunikasi.
            Dalam analisis semiotiknya, Peirce membagi tanda berdasarkan sifat ground menjadi tiga kelompok, yaitu qualisigns, sinsigns, dan legisigns. Qualisigns adalah tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Contoh, sifat merah merupakan qualisigns karena merupakan tanda pada bidang yang mungkin. Sinsigns adalah tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilan dalam kenyataan. Semua pernyataan individual yang tidak dilembagakan merupakan sinsigns. Sebuah jeritan bisa berarti kesakitan, keheranan atau kegembiraan. Legisigns adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Tanda lalu lintas adalah sebuah legisigns. Begitu juga dengan mengangguk, mengerutkan alis, berjabat tangan, dan sebagainya.[8]
            Menurut Eco (1990:28), ada satu prinsip yang sangat mendasari teori semiotik Peirce, yaitu sebuah tanda adalah sesuatu yang telah diketahui lewat sesuatu yang kita tahu secara detail. Peirce membedakan hubungan antara tanda (representamen) dan acuannya (object) ke dalam 3 jenis hubungan, yang meliputi (1) ikon (icon), jika ia berupa hubungan kemiripan. (2) indeks (index), jika ia berupa hubungan kedekatan kausalitas, dan (3) simbol (symbol), jika ia berupa hubungan yang sudah terbentuk secara konvensi. Peirce lebih jauh menjelaskan bahwa tipe-tipe tanda seperti ikon, indeks, dan simbol memiliki nuansa yang dapat dibedakan, yaitu:
1.      Ikon, yaitu tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat serupa (berupa kemiripan), sehingga penanda merupakan gambaran atau arti langsung dari petanda (misalnya gambar buku menandai buku yang nyata). Ikon dibagi menjadi tiga, yakni:
a.       Ikon tipologis, yaitu ikon yang dalam pendeskripsiannya terdapat istilah-istilah dalam makna spasialitasnya, profil, atau garis bentuk. Misalnya potret seorang gadis yang cantik menandai kecantikan gadis tersebut.
b.      Ikon dragmatis, yaitu ikon yang dalam pendeskripsiannya terdapat wilayah makna relasi. Adanya hubungan antara gejala struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Misalnya seorang bayi diberi nama “Agustina” karena dilahirkan pada bulan Agustus.
c.       Ikon metafora, yaitu ikon yang tidak mempunyai kemiripan antara tanda dan acuannya, tetapi antara dua acuan, keduanya diacu dengan tanda yang sama seperti halnya metafora yang sebenarnya juga.
2.      Indeks, yaitu tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara penanda dan petanda yang berupa hubungan sebab akibat (hubungan kausal). Sebuah tanda disebut sebagai indeks apabila terdapat hubungan eksistensial di antara tanda dan objeknya yang bersifat konkret melalui cara yang kausal. Sebagai contoh adalah jejak kaki di atas permukaan tanah merupakan indeks jika ada orang yang baru saja melewatinya.
3.      Simbol, yaitu tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan keduanya bersifat arbitrer (semaunya) dan berdasarkan konvensi (perjanjian masyarakat). Berdasarkan konvensi itu masyarakat menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan objek yang diacu dan menafsirkan maknanya. Misalnya kata ‘ibu’ berarti ‘orang yang melahirkan kita’.[9]

2.2. Macam-macam Semiotik
            Sampai saat ini, sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang. Macam-macam semiotik ini antara lain semiotik analitik, deskriptif, faunal zoosemiotic, kultural, naratif, natural, normatif, sosial, struktural. Semiotik analitik merupakan semiotik yang menganalisis sistem tanda. Semiotik deskriptif adalah semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang. Semiotik faunal zoosemiotic merupakan semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Semiotik kultural merupakan semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang ada dalam kebudayaan masyarakat. Semiotik naratif merupakan semiotik yang membahas sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (folklore). Semiotik natural atau semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Semiotik normatif merupakan semiotik yang khusus membahas sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma. Semiotik sosial merupakan semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang kata maupun lambang rangkaian kata berupa kalimat. Semiotik struktural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.[10]

2.3. Bahasa sebagai Sistem Semiotik
            Bahasa dalam pemakaiannya bersifat bidimensional, karena keberadaan makna selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antar lambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemeran serta konteks sosial dan situasional yang melatarinya. Dihubungkan dengan fungsi yang dimiliki, bahasa memiliki fungsi eksternal dan fungsi internal. Oleh sebab itu, selain dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan menciptakan komunikasi, juga untuk mengolah informasi dan dialog antar diri sendiri.
            Kajian bahasa sebagai suatu kode dalam pemakaian berfokus pada (1) karakteristik hubungan antara bentuk lambang atau kata satu dengan yang lainnya, (2) hubungan antar bentuk kebahasaan dengan dunia luar yang diacunya, (3) hubungan antar kode dengan pemakainya. Studi tentang sistem tanda sehubungan dengan ketiga butir tersebut baik berupa tanda kebahasaan maupun bentuk tanda lain yang digunakan manusia dalam komunikasi masuk dalam ruang lingkup semiotik.[11]
            Ditinjau dari sudut pemakaian, telah diketahui bahwa alat komunikasi manusia dapat dibedakan antara media berupa bahasa atau media verbal dengan media nonbahasa atau nonverbal. Sementara media kebahasaan itu, ditinjau dari alat pemunculannya atau chanel dibedakan pula antara media lisan dengan media tulis. Dalam media lisan misalnya, wujud kalimat perintah dan kalimat tanya dengan mudah dapat dibedakan lewat pemakaian bunyi suprasegmental atau pemunculan kinesik, yakni gerak bagian tubuh yang menuansakan makna tertentu. Kaidah penataan kalimat selalu dilatari tendesi semantis tertentu. Dengan kata lain sistem kaidah penataan lambang secara gramatis selalu berkaitan dengan strata makna dalam suatu bahasa. Pada sisi lain makna sebagai label yang mengacu realitas tertentu juga memiliki sistem hubungannya sendiri.[12]

2.4. Kajian Semiotik pada Naskah Drama Tiang Debu
            Dalam pengkajian kali ini, nampaknya pendapat Pierce lebih bisa diterima dibandingkan Ferdinand De Saussure dalam kajian semiotik. Pierce membedakan hubungan antara tanda dan acuannya ke dalam 3 jenis hubungan, yang meliputi (1) ikon, (2) Indeks, dan (3) Simbol.
No.
Deskripsi Data
Hubungan Kenyataan dengan Jenis Dasarnya
Keterangan
1
2
3
1.
waktu fajar naik, Nampak Romo duduk dikursi goyang. Ia berwajah senyap menghadap penonton dengan pandangan jauh menembus.
Ia memakai blangkon, surjan, dan batik berwarna duka, dengan sandal Portugis ditangannya tongkat.
Sumi ketiduran dikursi
Jam antic melonceng satu kali. Romo menoleh, melihat ke jam dinding. Diambilnya dari kantong surjannya jam kantong berantai, seakan-akan mencocokkan waktu, lalu dimasukkannya lagi. Ia menatap kedepan lagi dengan wajah sumarah tanpa mendengar lagi pintu kamar Sumi terbuka. Agus berpiyama. Membawa jaket ungu, agak mengantuk keluar dari kamar itu dan mendekati Sumi. Ia melihat sejenak kepada Romo. (N1)
ü   


semua ikon tersebut merupakan awal mula cerita di mana Romo saat itu sedang duduk dikursi singgasananya dengan menggunakan blangkon, surjan, batik. Ia memakai tongkat. Jam di rumahnya berbunyi satu kali. Pandangannya tak luput memerhatikan jam dinding. Ia memiliki jam tangan di kantong surjannya. Tokoh agus menggunakan baju tidur dan membawa sebuah jaket berwarna ungu.
2.
Sumi berdiri melihat jam (N3)
ü   


Pada ikon jam, di sini terlihat bahwa tokoh Sumi tersentak dan kaget ketika ditanya oleh tokoh Agus. Ikon jam menggambarkan alat untuk mengukur waktu.
3.
Aku memerlukan sinar matahari yang pertama dan terakhir (D7)

ü   

Indeks ini menunjukkan bahwa ia masih ingin melihat cahaya matahari hingga ajal menjemputnya.
4.
Siapa yang berani menutup jendela itu, akan mendapat celaka. Kenapa kau mesti repot mengurusi Sumi? (D9)
ü   


Ikon jendela menggambarkan benda mati berbentuk persegi panjang yang bisa tertutup maupun terbuka.
5.
Meletakkan jaket di meja, lalu masuk kamar tapi pintu tidak ditutupnya. (N11)
ü   


Ikon meja menggambarkan tempat untuk menaruh benda apa pun di atasnya, dalam hal ini, jaket yang ditaruh. Sedangkan kamar menggambarkan ruangan tempat tidur tokoh Agus.
6.
Siapa yang berani menutup jendela itu, akan mendapat celaka. Kenapa kau mesti repot mengurusi Sumi? (D9)

ü   

Indeks ini menggambarkan apabila ada seseorang yang berani menutup jendela, maka akan terjadi musibah yang menutupnya.
7.
Menekan tongkat, kursi bergoyang teratur. (N12)
ü   


Ikon tongkat menggambarkan kepunyaan benda berbentuk lonjong panjang yang dimiliki Romo.
8.
“Sumi... kau tak usah menangis, tak usah menangis. “saatnya sudah dekat, janji itu sebentar lagi ditebus, hari ini hari Jumat Kliwon. Kuminta dikuburkan sebelum orang pergi sembayang Jumat, terus terang aku tidak meninggalkan pusaka apa-apa untukmu Sumi... kecuali bila kain kafan telah membungkus jasadku nanti, gantungkanlah pakaianku dikapstok itu baik-baik, jangan sampai ada yang memindahkannya nanti, bersihkan debunya bila debu itu mengotori pakaianku ini. Dan selop ini, kuminta diletakan didepan pintu kamarku itu dikamar itu terkumpul sejarah keluarga yang akan habisa sampai disini. (D25)

ü   


9.
“Kami bertemu tanpa sengaja. Dua tahun lamanya saya jadi janda. Bukankah Romo sendiri yang menulis surat pada saya, agar saya segera kawin lagi ? Sayapun ketemu dengan mas Agus diruang kuliah Extention. Kami tidak terlalu ama untuk kemudian memutuskan segera kawin. Memang, jika saya bersalah, kesalahan itu karena kelalaian saya memberitahu pada Romo dan tidak minta persetujuan pada Romo lebih dulu. (D35)
ü   


Ikon ini menggambarkan adanya sebuah gedung di suatu universitas yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan untuk belajar mahasiswa.
10.
Aku seperti mendengar langkah orang datang. Tentu Mantri akan datang, menerima pamitku yang penghabisan. Oh, itu siapa? (D44)


ü   
Simbol yang muncul saat Romo mendengar suara langkah kaki kemudian menginginkan ucapan terakhir yang diberikan Romo kepada Mantri.
11.
(LONCENG JAM BERBUNYI EMPAT KALI, SUMI KAGET LALU IA MELIHAT JAM KE JENDELA. TAKUT). (N33)
ü   


Ikon benda ini menggambarkan suasana mencekam saat lonceng jam berbunyi empat kali.
12.
Ketika tubuhku telah terbaring dibawah tanah. Ia datang setelah waktu Asyar tiba, pada hari jum’at ini juga. Bangkai burung gagak itu yang memberi petanda. (D64)


ü   
Simbol yang muncul ini menggambarkan bagaimana tokoh Romo yang berangan-angan sudah berada di liang lahat pada waktu Asyar.
13.
Ketika tubuhku telah terbaring dibawah tanah. Ia datang setelah waktu Asyar tiba, pada hari jum’at ini juga. Bangkai burung gagak itu yang memberi petanda. (D64)
ü   


Ikon ini menggambarkan seekor burung gagak yang telah mati dan menjadi bangkai.
14.
Kedatangannya mendadak sekali. Ia membawa sebuah pistol. (D66)
ü   


Ikon ini menggambarkan senjata api genggam yang ukurannya kecil.
15.
MENOLEH MELIHAT ADA KRANS BUNGA DISANDARKAN DIPINTU (N65)
ü   


Ikon ini menggambarkan bagian tumbuhan yang akan menjadi buah.
16.
Kuperingatkan Gus, agar kau hati-hati, jangan sampai berbicara melangkahi pantangan. (D117)

ü   

Indeks ucapan ini menggambarkan sifat Agus yang keras kepala saat diberitahu oleh Mantri. Kemudian, Mantri memberi nasihat kepada Agus agar tidak sembarang berbicara.
17.
Kukatakan, bahwa aku bisa merobeknya ! Dikatakan disini, bahwa ia akan datang sore-sore karena kebetulan ia perlu ke Jogja. Kebetulan ! (D137)
ü   


Ikon tempat ini menggambarkan Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ciri khasnya disebut Kota Gudeg.
18.
Ia belum dengar, bahwa orang tua purba, bisa menjumpai anaknya hingga jadi batu ! (D146)

ü   

Indeks ucapan ini menggambarkan ucapan orangtua sangat sakral.
19.
Aku ingat, dia sering membawamu jalan-jalan kalau sore ke alun-alun. Atau kalau ada kenduri, kangmas mengajakmu menonton wayang kulit semalam suntuk. Kalau ada perayaan sekaten di alun-alun lor, kau selalu diajaknya nonton sirkus, naik kereta putar. Kau telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Kau kawin menurut apa yang kau sukai saja. (D158)
ü   


Ikon tempat ini menggambarkan tanah lapang yang luas yang terdapat berbagai macam permainan seperti komedi putar, ombak banyu, biang lala, dan lain sebagainya.
20.
Masjid syuhada ..... (D166)
ü   


Ikon tempat ini menggambarkan rumah untuk beribadah orang islam.
21.
Hei, mas ! Pak, ia duduk disitu ! dikursi Romo ! Bencana benar-benar akan datang ! (D177)


ü   
Simbol ini menggambarkan bagaimana kramatnya kursi sepeninggal Romo. Sumi mengingatkan suaminya untuk tidak duduk dikursi tersebut dan apabila ada orang yang duduk disitu, niscaya akan ada masalah yang menimpa orang tersebut.
22.
Syukurlah! Saya menginap dihotel Garuda malam ini. Tentu malam ini saya kesepian sekali. Bagaimana kalau kita main kartu sehabis tahlilan malam ini? (D183)
ü   


Ikon tempat ini menggambarkan bangunan berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat untuk menginap.
23.
Tadi setelah orang-orang pulang tahlilan katanya ia pergi ke Malioboro mau beli kartu? (D193)
ü   


Ikon tempat ini menggambarkan bangunan yang terdapat di Yogyakarta, sebagai bangunan yang memperjualbelikan macam-macam pernak pernik khas Kota Gudeg.

*Keterangan
1. Ikon             2. Indeks         3. Simbol




















BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
            Semiotika merupakan ilmu tentang lambang dan tanda sebagai tindak komunikasi yang terjadi. Apa pun bentuk komunikasinya, apa pun bentuk obyeknya, apa pun peristiwa-peristiwanya, semua itu dimaknai sebagai tanda. Tanda dalam hal ini, menurut Pierce dibagi menjadi tiga tipe, yaitu ikon, indeks, dan simbol.
Dalam naskah drama Tiang Debu karangan Motinggo Busye terdapat kalimat-kalimat yang mengindikasikan sebuah tanda dalam karya sastra. Tanda-tanda yang terdapat dalam drama ini bukan sekadar kata, namun kata-kata tersebut memiliki fungsi keindahan. Tanda-tanda dalam naskah drama Tiang Debu berjumlah dua puluh tiga, yang terdiri atas lima belas ikon, lima indeks, dan tiga simbol. Ikon di sini terlihat yang paling banyak dibandingkan dengan yang lain. Sehingga dalam naskah ini, hubungan tanda antara penanda dan pertanda bersifat serupa atau sama.










DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi tentang Makna, ( Bandung: Sinar Baru, 1988).
De Saussure, Ferdinand, Course in General Linguistics, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1988).
Djoko Pradopo, Rachmat, Kritik Sastra Indonesia Modern, (Bandung: Gama Media, 2002).
Krauss, Hedwig, Verstehen und Gestalten, (Munchen: Franzis Print and Media GmbH, 1999).
Prawesti, Afni, Analisis Struktural Semiotik Naskah Drama Emilia Galotti karya Gotthold Ephraim Lessing, (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2013).
Semi, Atar, Metode Penelitian Sastra, (Bandung: Angkasa, 1990).
Sobur, Alex, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004).
Teew, A, Khasanah Sastra Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984).
Van Zoest, Art, Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Denganya, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1993).



[1] Atar Semi, Metode Penelitian Sastra, (Bandung: Angkasa, 1990), hlm. 53.
[2] Hedwig Krauss, Verstehen und Gestalten, (Munchen: Franzis Print and Media GmbH, 1999), hlm. 249.
[3] Rachmat Djoko Pradopo, Kritik Sastra Indonesia Modern, (Bandung: Gama Media, 2002), hlm. 71.
[4] Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 95.
[5] Art Van Zoest, Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Dengannya, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1993), hlm 1.
[6] A, Teew, Khasanah Sastra Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm.6.
[7] Ferdinand de saussure, Course in General Linguistics, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1988), hlm. 26.
[8] Art Van Zoest, Op.cit., hlm. 10.
[9] Afni Prawesti, Analisis Struktural Semiotik Naskah Drama Emilia Galotti Karya Gotthold Ephraim Lessing. (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2013), hlm. 40.
[10] Ibid.
[11] Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi tentang Makna, (Bandung: Sinar Baru, 1988), hlm. 37.
[12] Aminuddin, Op.cit.,hlm. 38.